Makam Papan Tinggi, Barus - Tapanuli Tengah

Rabu, September 24, 2014 | , , , ,



Tugu batu ini menjadi penanda kita akan memasuki daerah wisata sejarah dan religi Makam Papan Tinggi. Salah satu alternatif wisata Tapanuli Tengah yang direkomendasikan. Belum ada gapura khusus sebagai penyambut selamat datang. Namun keberadaan tugu ini tepat di tepi jalan utama lintas Barus - Singkil (Provinsi Aceh) menjadi petunjuk yang jelas daerah wisata tujuan.

Dari tugu, masih harus berjalan kaki atau naik motor sekitar 200 meter hingga parkiran terakhir kendaraan. Sedangkan untuk mobil sudah tidak memungkinkan karena hanya jalan setapak. Jika belum membawa bekal, ada warung kecil di sekitar parkiran sepeda motor. Terakhir, masih harus menjalani bumi yang datar dari parkiran hingga ke anak tangga sekitar 150 meter.


Here wo go. Itulah anak tangga pertama dari sekitar 700-an anak tangga. Ada juga yang menyebutkan mencapai seribu-an. Pandang dulu dalam-dalam. Kalau sanggup, maju. Ragu-ragu mundur saja.






Step by step pasti dilalui dengan beberapa kali berhenti. Dijamin. Napas ngosh-ngoshan, jelas. Terasa sesuatu pada otot-otot kaki, pasti. Pandangan mungkin berkunang-kunang, bisa jadi. Wajah memutih sedikit memucat, kadang-kadang. Begitulah petualangan yang dihadapi. Masih sanggup? Pandang lagi, pikir lagi. Lanjutkan saja. Itu lebih keren.


Ini merupakan salah satu pemandangan dari pertengahan pendakian. Samudera luas nun jauh dan keadaan Kota Barus yang masih asri dan dikelilingi segala sesuatu berwarna hijau.



Disini menjadi checkpoint terakhir sebelum mencapai puncak. Istirahat lagi sejenak sambil menikmati suasana. Gambar atas menjadi tujuan akhir pendakian. Belum berakhir, masih butuh stamina untuk tiba disana.






Disinilah kita kini. Jangan lupa buka alas kaki sebagai satu satu bentuk penghormatan. Objek utama adalah makam panjang dalam lingkungan seluas sekitar 250 meter persegi yang dikelilingi pagar. Berada tepat di puncak bukit. Panjang makam sekitar 7 meter dengan tinggi batu nisan mencapai 1,5 meter.

Di batu nisan yang terbuat dari batu cadas dengan berat ratusan kilogram tertulis nama Syekh Mahmud Fil Hadratul Maut yang ditahrikhkan pada tahun 34 H sampai 44 H yang berarti hidup pada masa Umar Bin Khattab sebagai khalifah. Bahkan lebih dahulu dibanding masa wali di tanah Jawa. Sejarah mencatat Barus memang menjadi tempat pertama kalinya Islam masuk di Indonesia.



Lihat kanan pandang kiri. Inilah sekilas sisi bumi yang dapat dilihat tepat dari puncak. Puncak makam memang bukan titik tertinggi di daerah ini, namun tetap saja butuh ekstra tenaga menaklukkannya.

Pemandangan Dari Pintu Masuk Makam

Salah Satu Tempat Istirahat (Checkpoint 1)

Makam Papan Tinggi terletak di Desa Penanggahan, Kecamatan Barus Kabupaten Tapanuli Tengah. Berada sekitar 65 Km dari Kota Sibolga atau 75 Km dari Kota Pandan sebagai Ibukota Kabupaten Tapanuli Tengah.

Makam Papan Tinggi menjadi salah satu dari beberapa komplek pemakaman bersejarah yang ada di Barus. Orang-orang tua percaya dulunya makam terletak di daratan. Karena hempasan ombak dan perubahan iklim, posisi makam menjadi tinggi dan luas daratan bertambah. Sekilas, masuk akal juga melihat komposisi tanah di sekitar makam tidak seperti tanah perbukitan umumnya.


 *****

Attention Please, jika ingin berkunjung sebaiknya hindari waktu ketika matahari sedang menantang bumi plus cuaca cerah. Dijamin panas menyengat mendidih menguap. Jauhi jam 9 pagi hingga 3 sore. Kecuali memang punya niat ingin bakar lemak, ya cocok amat. Pakai jaket, mantel, penutup kepala dan seluruh bagian tubuh. It is burning fat time.

Jangan lupa bawa bekal secukupnya, khususnya air minum. Meski begitu, ketika sangat haus di tengah pendakian jangan sekonyong-konyong minum sampai perut kembung. Bisa muntah. Sementara pendakian masih panjang, belum lagi berurusan saat turun nanti, jangan coba-coba.

Upayakan perut tidak dalam keadaan kosong dan lapar saat akan memulai perjalanan. Bisa jadi masalah serius. Itu sama seperti mengundang kunang-kunang bermain di atas kepala dan menginginkan kulit wajah memutih pucat. Mau?

Tidak kalah penting, sebaiknya pemanasan dulu sebelum mulai mendaki. Paling tidak otak-atik sedikit bagian kaki. Biasanya jika tidak melakukan itu efeknya memang tidak dirasakan saat itu juga, namun esok hari hingga hampir seminggu kemudian kaki seperti penuh duka. Otot-otot sakit sana-sini.

Satu hal lain yang sangat kusesalkan adalah kebersihannya belum terjaga. Kemasan makanan dan minuman ditemukan hampir disetiap meter lokasi. Memang perlu kesadaran dan menyadarkan tingkat tinggi untuk mengatasi masalah yang terjadi hampir di setiap daerah wisata.

Koordinat Lokasi : 2o 0' 37'' N, 98o 24' 44'' E

0 komentar:

Posting Komentar